Minggu, 07 September 2014

Cerita Ayah :'(



saya ingat dari kejauhan bahwa beliau tetap bisa melihat saya di alam yang berbeda, teringat jelas pesan terakhir yang beliau sampaikan pada ku, teringat jelas  nasehat-nasehat yang seakan enggan saya dengar dahulu kala, terngiang permintaan yang selalu beliau katakan pada saya. Jelas tak akan pernah saya lupakan sosok yang begitu bertanggung jawab,sosok yang bijaksana, yang pintar,yang penyabar meskipun sering memarahi karena kesalahan yang saya perbuat sendiri, begitu tulus dengan apa yang beliau berikan kepada saya, teringat jelas beliau sering membuat saya marah dengan memencet hidung saya, menarik-narik kuncir saya . saat itu saya benar-benar marah dengan perlakuan mu seperti itu, dan beliau hanya tertawa saja ketika melihat saya marah. Pernah saya mengutuk beliau karena beliau tidak mengambulkan permintaan saya, pernah saya membentak beliau karena apa yang terjadi tidak sesuai keingingan saya bahkan saya pernah menganggap beliau tidak ada. Begitu buruknya sikap saya dahulu terhadap beliau,sehingga penyesalan terdalam telah mempunyai sikap dan perilaku seperti itu. Hingga aku beranjak dewasa saya semakin tidak menghiraukan beliau karena sibuk dengan dunia bau dan teman baru.
 Dulu beliau sering datang kekamar menceritakan dongeng, memberikan tebak-tebakan sampai akhirnya terlelap, bahkan saya sangat bosan di perlakukan seperti itu setiap malam saat itu betapa saya sadari bahwa hal itu tidak akan bisa di lakukan lagi saat saya sudah dewasa karena di mana agak canggung untuk seorang ayah dan anak gadis untuk bedekatan seperti itu, semakin beranjak dewasa semakin banyak masalah yang muncul , semakin banyak pertentangan di antara kami yang menyebabkan perilaku burukku terhadap beliau, mulai tidak mematuhi nasehat beliau, mulai membangkang peraturan. Namun meskipun begitu saya terus berdoa kepada allah untuk semua kebaikan beliau, saya sangat mencintai beliau sampai akhir hayatku. Sampai pada saat itu saya pernah sakit keras dan perlu dana yang besar untuk pengobatan saya lihat dia berjuang untuk ku dan tidak pernah saya tau saat itu jika beliau terus berdoa untuk ku dan menangis dengan keadaanku. Saya benar rasanya ingin menangis dan berlutut di depan beliau, begitu besar rasa sayang beliau terhadap saya. Hingga waktu terus berlalu beliau yang  selalu berkorban untuk saya,saya tau di setiap sholat beliau sellau mendoakan bagi kesuksesan saya. 
Pada akhirnya saya harus berda jauh dari beliau karena harus menuntut ilmu di daerah orang lain, saya pikir begitu menyenangkan jauh dari beliau yang tanpa aturan lagi, bisa melakukan hal sesuka hati namun senakin jauh jarak yang memisahkan,semakin renggang peraturan dari beliau membuat hati ini hampa, membuat hati ini gelisah dan membuat keburukan pada hidup saya. Wakru yang menyenangkan saya lalui di daerah perantauan,tidak jarang saya lupa menelpon beliau karena sibuk dengan kegiatan baru saya. Beliau bahkan sempat marah karena dalam seminggu saya lupa menelpon beliau dan saya menggaggap hal itu sepele. Saya tidak sadar begitu beliau merindukan saya dan ingin perhatian dari saya. Hingga pada saatnya beliau tidak pernah menelpon saya dan setelah saya bertanya mengapa beliau tidak pernah menelpon saya lagi ternyata beliau sedang sakit keras dan di rawat di rumah sakit. Begitu sakit hati mendengar kabar itu,rasanya ingin saya segera pulang menemui beliau. Hati tidak tahan menahan perasaan ,saya segera membolos kuliah dan segera menemui beliau betapa terkejutnya saya melihat beliau terbaring sakit dengan tubuh yang begitu kurus dan biru dengan bekas suntikan. Saya menangis di hadapan beliau yang sedang sakit keras, begitu sakit rasanya hati menahan sedih yang begitu mendalam, tak hentinya saya beribadah dan tidak pernah memutus doa untuk beliau. Dengan berat hati saya kembali ke perantauan untuk melanjutkan studi saya. Pikiran saya begitu tidak fokus dengan studi, di pikiran saya hanya berharap ayah akan cepat sembuh dan setelah berapa lama hari kemudian kakak mengabarkan bahwa ayah ku tidak kunjung membaik dan harus segera melakukan opreasi berdetak kencang hati mendengar semuanya. Betapa tidak umur ayah yang begitu sudah tua dan harus di operasi, saya tak henti-hentinya di berikan cobaan yang begitu berat saya berusaha untuk berhemat demi dana yang mesti di keluarkan untuk biaya berobat ayahku setelah operasi ayah menjadi membaik namun beberapa kemudian beliau kumat kembali terjadi pendarahan yang berulang kali. Hingga pada akhirnya saya mengetahui bahwa ayah terkena kanker ganas buli-buli yang menyerang di pinggulnya. Setiap hari ayah semakin kurus dan kesakitan serta terus mengalami pendarahan. 
Tak hentinya aku terus berdoa untuk kesembuhan ayah, saya sangat percaya kekuatan allah akan menyembuhkan kanker ayah. Saya tidak pernah memutus harapan walauoun sekian banyak saya membaca buku dan berbagai sumber informasi bahwa sangat sulit untuk mengobati kanker. Bahkan saya tidak menghiraukan perkataan dokter ketika mereka penyerah atas penyembuhan kanker ayah, mereka hanya bisa melakukan kemotrapi yang bisa menghambat pertumbuhan kanker itu saja dan banyak sekali biaya yang di keluarkan utnuk menjalani kemotrapi. Saya menjadi sering bolos kuliah dan pulang ke rumah untuk membantu ibu merawat ayah. Saya kadang kesal karena ayah tidak suka makan,dan makannya hanya sedikit. Banhkan ayah sering lupa dengan apapun. Saat itu dunia seakan menghukumku dengan keadaan seperti itu, tidak pernah saya perlihatkan kesedihan dan luka hati saya kepada teman-teman dan orang-orang di dekat saya, saya selalu mengunci diri di kamar dan menangis sejadinya, terkadang saya sering menjerit karena saya tidak bisa menahan semua kesedihan dan cobaan yang saya rasakan. Enggan rasanya saya bergaul dengan banyak orang jika keadaan saya seperti itu. Sampai pada akhirnya saya mulai menyesuaikan situasi dengan keadaan yang sebenarnya, saya mulai bangkit dan mencoba untuk sabar dan tegar menjalani apapun cobaan yang di beban kan pada hidup saya. Saya menjalani hari-hari seperti biasa kuliah ,pulang kampung merawat ayah, hidup seadanya. 
Hampir setahun saya jalani dan pada akhirnya saya tiba-tiba di perintahkan untuk segera pulang karena ayah sedang kritis dan masuk ruang ICU. Berdegup hati menerima kenyataan, sekelibat banyangan dan prasangka buruk sewaktu perjalanan pulang dan firasat ku mengatakan beliau sudah meninggalkan saya dan tepat sekali perasaan saya ternyata ayah sudah meninggal. Sontak saya menangis sejadi-jadinya, hati begitu gelisah ingin segera bertemu ayah namun waktu perjalan yang ku tempuh 6 jam. Subuh saya tiba di rumah saya lihat sosok ayah terbaring kaku di selimuti kain putih, tak bisa lagi ku tahan air mata dan penyesalanku. Begitu menyakitkan orang yang selama ini sangat aku cintai dan sayangi telah pergi meninggalkan saya. Betapa tidak hati saya seakan runtuh,tidak kuat kaki untuk berdiri saya hanya bisa melihat beliau telah kaku, tidak habis air mataku terus mengalir. Sekejap saya liat air mata keluar dari mata jasad alm.ayah saya. Saya tau beliau juga sangat sedih meninggalkan saya seperti ini. Saya selalu berdoa untuk beliau bisa melihat dan mendampingi saya saat saya wisuda dan mendampingi saya di pelaminan nanti. Bahkan melihat dan menimang cucu dari saya. Namun semua harapan saya hilang begitu saja ketika saya melihat beliau sudah di panggil allah swt. Saya hanya bisa merelakan dan mengiklaskan beliau kembali pada allah sang pencipta segala umat di dunia ini. Kini kami hanya tinggal bertiga yaitu ibu kakak dan saya. Harapan satu-satunya pada ibu saya, beliau harus bisa mendampingi sampai saya wisuda dan menikah dan mejalani sisa-sia hidup saya. Saya selalu meminta kepada allah swt di beri kesempatan untuk membahagiakan ibu dan membuatnya selalu sehat sampai akhir hayatnya....untuk kedua orang tua ku rusni dan yamit saya begitu merindukan dan mencintai kalian. Tidak pernah terbesit di hati ini untuk menyakiti hati kalian, itu hanya kekhilafan saya dalam berperilaku sehingga membuat kalian sedih. Saya berjanji akan menjadi yang terbaik untuk kalian. I love you...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar