saya
ingat dari kejauhan bahwa beliau tetap bisa melihat saya di alam yang berbeda,
teringat jelas pesan terakhir yang beliau sampaikan pada ku, teringat
jelas nasehat-nasehat yang seakan enggan
saya dengar dahulu kala, terngiang permintaan yang selalu beliau katakan pada
saya. Jelas tak akan pernah saya lupakan sosok yang begitu bertanggung
jawab,sosok yang bijaksana, yang pintar,yang penyabar meskipun sering memarahi
karena kesalahan yang saya perbuat sendiri, begitu tulus dengan apa yang beliau
berikan kepada saya, teringat jelas beliau sering membuat saya marah dengan
memencet hidung saya, menarik-narik kuncir saya . saat itu saya benar-benar
marah dengan perlakuan mu seperti itu, dan beliau hanya tertawa saja ketika
melihat saya marah. Pernah saya mengutuk beliau karena beliau tidak
mengambulkan permintaan saya, pernah saya membentak beliau karena apa yang
terjadi tidak sesuai keingingan saya bahkan saya pernah menganggap beliau tidak
ada. Begitu buruknya sikap saya dahulu terhadap beliau,sehingga penyesalan
terdalam telah mempunyai sikap dan perilaku seperti itu. Hingga aku beranjak
dewasa saya semakin tidak menghiraukan beliau karena sibuk dengan dunia bau dan
teman baru.
Dulu beliau sering datang kekamar menceritakan dongeng, memberikan
tebak-tebakan sampai akhirnya terlelap, bahkan saya sangat bosan di perlakukan
seperti itu setiap malam saat itu betapa saya sadari bahwa hal itu tidak akan
bisa di lakukan lagi saat saya sudah dewasa karena di mana agak canggung untuk
seorang ayah dan anak gadis untuk bedekatan seperti itu, semakin beranjak
dewasa semakin banyak masalah yang muncul , semakin banyak pertentangan di
antara kami yang menyebabkan perilaku burukku terhadap beliau, mulai tidak mematuhi
nasehat beliau, mulai membangkang peraturan. Namun meskipun begitu saya terus
berdoa kepada allah untuk semua kebaikan beliau, saya sangat mencintai beliau
sampai akhir hayatku. Sampai pada saat itu saya pernah sakit keras dan perlu
dana yang besar untuk pengobatan saya lihat dia berjuang untuk ku dan tidak
pernah saya tau saat itu jika beliau terus berdoa untuk ku dan menangis dengan
keadaanku. Saya benar rasanya ingin menangis dan berlutut di depan beliau,
begitu besar rasa sayang beliau terhadap saya. Hingga waktu terus berlalu
beliau yang selalu berkorban untuk
saya,saya tau di setiap sholat beliau sellau mendoakan bagi kesuksesan saya.
Pada akhirnya saya harus berda jauh dari beliau karena harus menuntut ilmu di
daerah orang lain, saya pikir begitu menyenangkan jauh dari beliau yang tanpa
aturan lagi, bisa melakukan hal sesuka hati namun senakin jauh jarak yang
memisahkan,semakin renggang peraturan dari beliau membuat hati ini hampa,
membuat hati ini gelisah dan membuat keburukan pada hidup saya. Wakru yang
menyenangkan saya lalui di daerah perantauan,tidak jarang saya lupa menelpon
beliau karena sibuk dengan kegiatan baru saya. Beliau bahkan sempat marah
karena dalam seminggu saya lupa menelpon beliau dan saya menggaggap hal itu
sepele. Saya tidak sadar begitu beliau merindukan saya dan ingin perhatian dari
saya. Hingga pada saatnya beliau tidak pernah menelpon saya dan setelah saya
bertanya mengapa beliau tidak pernah menelpon saya lagi ternyata beliau sedang
sakit keras dan di rawat di rumah sakit. Begitu sakit hati mendengar kabar
itu,rasanya ingin saya segera pulang menemui beliau. Hati tidak tahan menahan
perasaan ,saya segera membolos kuliah dan segera menemui beliau betapa
terkejutnya saya melihat beliau terbaring sakit dengan tubuh yang begitu kurus
dan biru dengan bekas suntikan. Saya menangis di hadapan beliau yang sedang
sakit keras, begitu sakit rasanya hati menahan sedih yang begitu mendalam, tak
hentinya saya beribadah dan tidak pernah memutus doa untuk beliau. Dengan berat
hati saya kembali ke perantauan untuk melanjutkan studi saya. Pikiran saya
begitu tidak fokus dengan studi, di pikiran saya hanya berharap ayah akan cepat
sembuh dan setelah berapa lama hari kemudian kakak mengabarkan bahwa ayah ku
tidak kunjung membaik dan harus segera melakukan opreasi berdetak kencang hati
mendengar semuanya. Betapa tidak umur ayah yang begitu sudah tua dan harus di
operasi, saya tak henti-hentinya di berikan cobaan yang begitu berat saya
berusaha untuk berhemat demi dana yang mesti di keluarkan untuk biaya berobat
ayahku setelah operasi ayah menjadi membaik namun beberapa kemudian beliau
kumat kembali terjadi pendarahan yang berulang kali. Hingga pada akhirnya saya
mengetahui bahwa ayah terkena kanker ganas buli-buli yang menyerang di
pinggulnya. Setiap hari ayah semakin kurus dan kesakitan serta terus mengalami
pendarahan.
Tak hentinya aku terus berdoa untuk kesembuhan ayah, saya sangat
percaya kekuatan allah akan menyembuhkan kanker ayah. Saya tidak pernah memutus
harapan walauoun sekian banyak saya membaca buku dan berbagai sumber informasi
bahwa sangat sulit untuk mengobati kanker. Bahkan saya tidak menghiraukan
perkataan dokter ketika mereka penyerah atas penyembuhan kanker ayah, mereka
hanya bisa melakukan kemotrapi yang bisa menghambat pertumbuhan kanker itu saja
dan banyak sekali biaya yang di keluarkan utnuk menjalani kemotrapi. Saya
menjadi sering bolos kuliah dan pulang ke rumah untuk membantu ibu merawat
ayah. Saya kadang kesal karena ayah tidak suka makan,dan makannya hanya
sedikit. Banhkan ayah sering lupa dengan apapun. Saat itu dunia seakan
menghukumku dengan keadaan seperti itu, tidak pernah saya perlihatkan kesedihan
dan luka hati saya kepada teman-teman dan orang-orang di dekat saya, saya
selalu mengunci diri di kamar dan menangis sejadinya, terkadang saya sering
menjerit karena saya tidak bisa menahan semua kesedihan dan cobaan yang saya
rasakan. Enggan rasanya saya bergaul dengan banyak orang jika keadaan saya
seperti itu. Sampai pada akhirnya saya mulai menyesuaikan situasi dengan
keadaan yang sebenarnya, saya mulai bangkit dan mencoba untuk sabar dan tegar
menjalani apapun cobaan yang di beban kan pada hidup saya. Saya menjalani
hari-hari seperti biasa kuliah ,pulang kampung merawat ayah, hidup seadanya.
Hampir setahun saya jalani dan pada akhirnya saya tiba-tiba di perintahkan
untuk segera pulang karena ayah sedang kritis dan masuk ruang ICU. Berdegup hati menerima kenyataan,
sekelibat banyangan dan prasangka buruk sewaktu perjalanan pulang dan firasat
ku mengatakan beliau sudah meninggalkan saya dan tepat sekali perasaan saya
ternyata ayah sudah meninggal. Sontak saya menangis sejadi-jadinya, hati begitu
gelisah ingin segera bertemu ayah namun waktu perjalan yang ku tempuh 6 jam.
Subuh saya tiba di rumah saya lihat sosok ayah terbaring kaku di selimuti kain putih,
tak bisa lagi ku tahan air mata dan penyesalanku. Begitu menyakitkan orang yang
selama ini sangat aku cintai dan sayangi telah pergi meninggalkan saya. Betapa
tidak hati saya seakan runtuh,tidak kuat kaki untuk berdiri saya hanya bisa
melihat beliau telah kaku, tidak habis air mataku terus mengalir. Sekejap saya
liat air mata keluar dari mata jasad alm.ayah saya. Saya tau beliau juga sangat
sedih meninggalkan saya seperti ini. Saya selalu berdoa untuk beliau bisa
melihat dan mendampingi saya saat saya wisuda dan mendampingi saya di pelaminan
nanti. Bahkan melihat dan menimang cucu dari saya. Namun semua harapan saya
hilang begitu saja ketika saya melihat beliau sudah di panggil allah swt. Saya
hanya bisa merelakan dan mengiklaskan beliau kembali pada allah sang pencipta
segala umat di dunia ini. Kini kami hanya tinggal bertiga yaitu ibu kakak dan
saya. Harapan satu-satunya pada ibu saya, beliau harus bisa mendampingi sampai
saya wisuda dan menikah dan mejalani sisa-sia hidup saya. Saya selalu meminta kepada
allah swt di beri kesempatan untuk membahagiakan ibu dan membuatnya selalu
sehat sampai akhir hayatnya....untuk kedua orang tua ku rusni dan yamit saya
begitu merindukan dan mencintai kalian. Tidak pernah terbesit di hati ini untuk
menyakiti hati kalian, itu hanya kekhilafan saya dalam berperilaku sehingga
membuat kalian sedih. Saya berjanji akan menjadi yang terbaik untuk kalian. I
love you...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar